Vaksinasi Berbasis Banjar Di Tabanan Sasar Tiga Desa Ini

Written by Average on February 12, 2021 in Cara Mengatasi Covid with no comments.

“SADS-CoV berasal dari kelelawar coronavirus yang disebut HKU2, yang merupakan kelompok virus heterogen dengan sebaran di seluruh dunia,” kata Edwards. “Seandainya tetap tidak mau. Karena bersinggungan, kita merujuk negara lain yang maju yang mayoritas Muslim dan MUI yang sudah sampaikan halal. Untuk kebaikan dan dalam keadaan mencegah penyakit yang lebih berat dan berbahaya, vaksin halal,” katanya. Ahmad menuturkan sejumlah produsen vaksin membutuhkan sel babi untuk membuat antigen. “Jelas ya hukum bolehnya sudah hilang kalau sudah ada vaksin halal yang lain,” terangnya. Asrorun menyebut vaksinasi saat ini adalah suatu yang yang mendesak atau darurat harus cepat dilakukan untuk mengendalikan pandemi Covid-19. RIAUONLINE, PEKANBARU- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir menyampaikan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat di Riau masih menggunakan vaksin Sinovac.

Perlu diketahui vaksin yang beredar sudah tentu harus melewati berabagai tes dan pengujian, diharapkan aman saat digunakan. “Itu satu, dan kalau virus dari sel mamalia berarti harus pakai sel mamalia, ini bukan untuk virus COVID aja tapi virus apapun,” tambahnya. Jadi menurutnya, vaksin Covid-19 AstraZeneca menggunakan enzim yang berasal dari jamur.

Anita mengatakan juga hingga saat ini hanya sel HEK 923 yang dapat digunakan untuk memperbanyak adenovirus. Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia mengatakan vaksin AstraZeneca mengandung tripsinyang berasal dari hewan babi. “Jadi, AstraZeneca tidak menggunakan tripsin hewan tapi yang digunakan adalah TryPLE. Dan itu adalah enzim dengan aktivitas mirip tripsin yang berasal dari jamur dan dibuat dengan cara rekombinan,” kata dia. Kemudian yang kedua, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan terpercaya tentang adanya bahaya atau risiko deadly jika tidak segera dilakukan vaksinasi Covid-19. Pemkot Balikpapan tidak akan menghentikan vaksinasi Covid-19 meski AstraZeneca mengandung babi. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik MUI merespons klarafisikasi AstraZeneca Indonesia terkait dengan temuan pemanfaatan unsur babi dalam vaksin keluaran Oxford, Inggris itu.

Vaksin Astrazeneca babi

Lebih lanjut ia juga mengatakan kebijakan serupa pernah diterapkan MUI saat memutuskan izin penggunaan halal vaksin meningitis. Alasan kedua adalah adanya keterangan dari ahli yang kompeten dan terpercaya tentang adanya bahaya atau resiko deadly jika tidak dilakukan vaksinasi Covid-19. “Pemerintah harus memastikan vaksin COVID-19 yang lain agar bersertifikat “Halal” guna mewujudkan komitmen pemerintah terhadap vaksinasi yang aman dan halal. Pemerintah tidak memikiki kekuasaan memilih jenis vaksin COVID-19, mengingat keterbatasan vakisn yang tersedia baik di Indonesia maupun tingkat international. Juru Bicara AstraZeneca Indonesia Rizman Abudaeri mengatakan, semua proses produksi vaksinnya tidak menggunakan atau bersentuhan dengan bahan dari hewan apa pun.

Lebih lanjut, Muti mengatakan hasil kajian itu tercantum dalam file yang dikaji pada Materials of Animal Origin Used in non-GMP Host Cell Line Culture and Banking yang tertera keterangan trypsin purified from porcine pancreas. Selain itu, pada Materials of Animal Origin Used in Pre-GMP Virus Seed Development dengan keterangan LB Broth containing bovine peptone and porcine enxyme. “Berdasarkan penelusuran informasi atas data publikasi ilmiah menunjukkan informasi yang sama,” ujar dia. Di tahap akhir, virus yang dikembangbiakkan dan sudah terpisah dari sel inang juga sudah tidak terdapat kandungan tripsin.

Setelah virus yang ditanam tumbuh, virus akan dipisahkan dari tripsin babi. Terkait vaksin AstraZeneca yang disebut haram karena mengandung unsur babi oleh MUI, Ahli Biologi Molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo justru menyatakan tidak ada kandungan babi yang terdeteksi dari hasil akhir. Namun demikian, Penny menegaskan bahwa izin penggunaan darurat vaksin AstraZeneca yang telah dikeluarkan pada 9 Maret lalu tidak dicabut.

“Misalkan setelah divaksinasi nantinya akan menyebabkan kanker, maka hal itu tidak boleh,” ujar Dr. Atoilah. “Penggunaan vaksin AstraZeneca akan tetap dilaksanakan dengan didukung oleh fatwa MUI terkait kebolehannya,” kata Lucia dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Terkait Vaksin Covid-19 dari AstraZeneca, Jumat (19/03) sore. “Ada kondisi kebutuhan yang mendesak (hajah syar’iyah) yang menduduki kondisi darurat syar’iyah,” ujar Ketua MUI Bidang Fatwa, KH. Asrorun Niam Sholeh, Jumat (19/03) di Jakarta, seperti dikutip dari laman resmi MUI.or.id. Maka ia berharap polemik kandungan babi dalam vaksin AstreaZeneca segera diakhiri, supaya vaksinasi untuk memutus mata rantai Covid-19 bisa segera diselesaikan.

Kelima, pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia, baik di Indonesia maupun di tingkat international. “Bahannya mengandung bahan haram atau dibuat dengan cara yang haram, dalam proses pembuatan vaksin itu melanggar hukum syariah. Lalu, tidak jelas manfaat suatu vaksin, apalagi jika mudharatnya jauh lebih besar.

Comments are closed.