Astrazeneca Tegaskan Vaksinnya Tak Mengandung Babi

Written by Average on February 14, 2021 in Cara Mengatasi Covid with no comments.

Kami informasikan untuk undangan pelaksanaan vaksinasi akan kami informasikan melalui Whatsapp/Email/SMS terdaftar dan mohon melakukan pengecekan secara berkala. Karena saat ini antusias dari pendaftar sangat tinggi, mohon kesediaannya menunggu sampai undangan pelaksanaan vaksinasi terdistribusi secara menyeluruh. Untuk pergantian peserta lain tidak diperkenankan karena knowledge awal yang sudah masuk ke sistem tidak dapat diubah. Setelah proses vaksinasi selesai maka peserta WAJIB tetap berada di lokasi tersebut selama 30 menit untuk dilakukan observasi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi oleh tim dokter sebelum diperbolehkan untuk pulang.

Ketiga, ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 guna ikhtiar mewujudkan kekebalan kelompok . Kelima, pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia. Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis menjelaskan fatwa Majelis Ulama Indonesia yang mengharamkan vaksin Covid-19 AstraZeneca karena dalam produksinya mengandung unsur babi. Dia menjelaskan, MUI menyatakan haram karena memang vaksin astraZeneca itu pembuatan inang virusnya menggunakan tripsin dari pankreas babi. Menurut dia, dokumen itu sudah cukup untuk tidak meneruskan audit lapangan.

Hal ini, kata Gus Yaqut telah tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2021 tertanggal eleven Januari 2021 tentang produk vaksin Covid-19 dari Sinovac Life Science China dan PT Bio Farma. Selain itu, rumor tersebut menyebutkan bahwa vaksinasi merupakan bagian dari sindikat perdagangan gelap internasional yang arahnya belum jelas. Selain itu, kata Muhaimin, dalam kontroversi penggunaan Astrazeneca terdapat dua perbedaan pendapat, yakni halal dan haram. Mikroba ditumbuhkan pada media yang terbuat dari bahan nabati, bahan kimia, dan bahan mineral. Menurutnya, Presiden Joko Widodo juga telah menyampaikan arahan dan meminta jajarannya untuk tetap berfokus menegakkan protokol kesehatan di tengah masyarakat.

Uji klinis II vaksin Sinovac telah dimulai sejak Agustus 2020 dengan melibatkan 1.620 relawan. Jika uji klinis vaksin berhasil dan hasilnya dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan , vaksin bisa diproduksi dan diedarkan secara massal. Sinovac Biotech juga telah meninjau pelaksanaan uji klinis vaksin fase III di Bandung.

Vaksin Sinovac babi

“Pada semua tahap proses produksi, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan atau bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” kata Direktur AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri, dalam sebuah pernyataan. Fasilitas produksi di pabrik China juga suci dan hanya digunakan untuk produk vaksin covid-19. Sedangkan dalam hal peralatan dan pensucian dalam proses produksi vaksin di PT.

Dikutip dari beberapa sumber, direktur hubungan media world AstraZeneca, Matthew Kent, menegaskan bahwa produk akhir dari vaksin tersebut tidak mengandung produk turunan manusia atau hewan, termasuk babi. Di awal proses penanaman, tripsin berguna untuk menumbuhkan virus pada sel inang. Setelah virus yang ditanam tumbuh, virus akan dipisahkan dari tripsin babi.

Selain itu, ada pula penggunaan media yang bahannya bersumber dari serum darah sapi atau serum darah janin sapi. Serum darah janin sapi diambil dengan cara menyembelih induknya lalu diambil janin sapi dan diambil darah yang bersumber dari janin sapi. “Berdasarkan kaidah hukum Islam dalam keadaan darurat yang tidak halal itu boleh digunakan. Maka penggunaan vaksin Covid-19 produk AstraZeneca hukumnya mubah atau boleh digunakan untuk program vaksinasi,” ucap dia. CoronaVac atau Sinovac merupakan vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan Tiongkok Sinovac.

Namun, kata Muti, sel vero itu tidak akan ikut atau terbawa dalam proses akhir pembuatan vaksin. ” MUI pernah mengeluarkan fatwa tentang produk microbial. Prinsipnya, selama media itu dipisahkan dari produk akhirnya dan selama ada proses pensucian, maka diperbolehkan. Misalnya ada serum darah atau tripsin yang berasal dari bahan najis,” ujarnya. Sekadar diketahui, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam mengatakan vaksin Covid-19 AstraZeneca tergolong haram karena dalam proses produksinya memanfaatkan tripsin babi. Selain itu, dalam proses produksi vaksin ini tidak ersentuhan dengan barang najis mutawassithah, sehingga dihukumi mutanajjis, tetapi sudah dilakukan pensucian yang telah memenuhi ketentuan pensucian secara syar’i (tathhir syar’i). Menurut kajian dari Majelis Ulama Indonesia , proses pembuatan vaksin AstraZeneca menggunakan tripsin hewan babi.

Jakarta, CNBC Indonesia – Vaksin Sinopharm ternyata mengandung tripsin babi yang sebelumnya juga ditemukan di AstraZeneca. Hal ini juga yang membuat Majelis Ulama Indonesia menyamakan ketentuan kedua vaksin tersebut. Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengimbau agar masyarakat tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan meskipun program vaksinasi akan segera dilaksanakan. Tidak memanfaatkan (intifa’) babi atau bahan yang tercemar babi dan turunannya. Dengan fakta tersebut maka didapati bahwa terjadi ikhtilat antara virus yang suci dengan media yang bahan-bahannya dari sel ginjal kera dan serum darah sapi.

Comments are closed.